Ingatan Pangkat Dua

Dia tidak boleh jatuh, aku harus bisa menahannya.aku harus tegar. Tapi sepertinya aku sudah tak kuat lagi. Ya, air mata itu akhirnya tidak bisa kubendung lagi. Air mata yang jatuh dari mata senduku, gadis yang bernama Niken. Aku memejamkan mata, membiarkan air mengalir dari mata yang biasanya bersinar ceria, tapi sekarang mata ini terlihat kelam seakan tertutup mendung. Aku hanya bisa menangis dalam ketidak kuasaku.
Braakkk, terdengar suara bantingan pintu dari dalam rumah. Langkahku terhenti, terdengar suara teriakan ibu, nada tinggi yang sering kudengar. Untuk siapakah teriakan dan bantingan pintu itu?? Perlahan-lahan ku beranikan diri membuka pintu. Ku hanya bisa berdiri diam tertegun di depan pintu. Ternyata teriakan itu di tujukan untuk ayah. Aku tidak tahu mengapa ibu semarah ini, yang kulihat hanyalah barang-barang yang berserakan di lantai. Suara ibu mulai bergetar, kulihat tetesan air mata dan perlahan ibu terduduk lemas.
Mereka tidak menyadari kehadiranku. Aku tidak sanggup lagi melihat pertengkaran ini, Ku bergegas menuju kamar. Apa yang sebenarnya terjadi?ibu memang sering terpancing emosi, tetapi kemarahan itu ditujukan untuk anak-anaknya yang suka menjengkelkan dan menunda-nunda pekerjaan. Tak pernah sekalipun ibu berteriak pada ayah, apalagi sampai semarah ini.
Terdengar lagi bantingan pintu dan teriakan ibu. Aku mulai memahaminya, ternyata ibu mencium gelagat buruk pada diri ayah. Tapi aku tidak percaya, ini tidak mungkin terjadi. Pasti ada yang salah dengan pendengaranku. Ayah yang selama ini kuhormati dan menjadi panutan hidupku tidak mungkin menduakan ibu ku..

Aku merasakan bantal ini basah. Segera kubuka mataku. Ternyata aku memimpikan kejadian itu lagi, kejadian terburuk yang ingin kulupakan. Ku seka air mata dari pipiku. Aku tidak boleh menangis lagi, aku bukan niken yang dulu, Niken yang masih dengan seragam putih abu-abunya, yang hanya bisa menangis di dalam kamar mendengar pertengkaran ibu dan ayahnya.
Adzan subuh sayup-sayup mulai terdengar. Segera kuambil air wudhu, dengan iringan rintik hujan kupanjatkan doa agar aku bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk suami dan anakku. Suami yang menjadi imamku dan panutan untuk anakku. Semoga pertengkaran itu hanya menjadi pengalaman terpahitku dan takkan dirasakan anakku kelak.

3 Response to "Ingatan Pangkat Dua"

  1. bagus nak, hahaha..
    semangat nulis ya niq, moga bisa belajar sama-sama yang lainnya.
    Good Luck

    unique says:

    Siaph...
    Tp katanya gag ngetawain...

    masutnya gak ngetawain???

Post a Comment

Mohon komentar jangan berbau sara dan merugikan orang lain, semoga wadah ini bisa menjadi sesuatu yang baik buat kita. Isi komentar di luar tanggung jawab kami.

powered by softple