Mencari Jejak yang Hilang


5 Desember 2010 di Jakarta. Sekian detik kemudian 23.20 menjadi 23.21. Entahh apa lagi yang aku tunggu hingga saat ini aku tak kunjung memberikan hak mata untuk meletakan tanggung jawabnya.Ia masih harus terjaga.

Beberapa malam yang lalu aku pun menuliskan tentang hal yang sama. Malam yang tak kunjung aku relakan untuk meninggalkanya. Sebenarnya, Jakarta sudah tak lagi bising seperti 10 jam yang lalu, sudah tak serungsing 11 jam yang lalu. Hanya suara musik kaka cs yang masih sibuk menggetarka gendang telingaku.
....

Hampir selalu setiap ada sesuatu yang salah, saat ada sesuatu yang harus aku tanyakan. Gelap malam dan kerlip bintang memberikan jawaban bisunya. Mereka juga pernah menampar dan membuatku terkapar saat aku mencoba tak mengakuinya.Aku melawan bahwa malam tak berhak melemparkan aku kedalam kesunyian, malam tak boleh menawan aku dalam kebisuan. Aku masih mau bicara, aku masih ingin menyerang semua pendapat-pendapat dan kenyataan. Persetan dengan malam yang ternyata memaksa aku harus diam.

Hampir selalu setiap aku merasa gundah, saat ada sesuatu yang harus kuceritakan. Dinginnya malam mampu membekukan kesedihan, ketenangannya memeluku agar segera terdiam dari isak tangis yang tak perlu ditunjukan. Ia mengajarkan aku agar tetap tenang. Tak perlu takut, dan kecewa meski kehadiranya tak pernah dianggap istimewa, tugasnya hanya menjaga dan melindungi jiwa-jiwa manusia yang lelah dan terbaring dalam tidur lelapnya. Hingga ia pun dilupakan setelah mentari terbangun dan siap memancarkan pesona cahayanya, menyapa gadis-gadis desa yang nampak sumringah ditepi-tepi sungai dengan cuciannya, di pinggir-pinggir sawah mengantarkan bekal untuk makan siang paman petani. Ia pun dicampakan. Meski malam tak pernah menceritakan semuanya itu, tapi ia selalu rela dan siap mendengar keluh kesahku.

Pernah di sebuah malam, aku melukis sebuah impian. Tepat di samping konstelasi bintang aquarius. Aku memulainya dengan goresan daftar keinginan, lalu aku mencoba membuatnya lebih indah dengan warna-warna rencana dan target tujuan. Semakin indah saat satu persatu tapak kaki dari langkahku juga aku torehkan. Aku memandangnya, lalu menghapus beberapa warna yang seepertinya terlalu gelap, agak abu-abu dan tak disukai bidadari-bidadari penjaga malam. Lalu mereka menuntun tanganku untuk memberikan warna yang indah dengan cinta.Lukisan malamku semakin sempurna saat kubingkai dengan lantunan doa.

Lukisan impian itu seharusnya masih ada, seharusnya masih tinggi seperti halnya bintang gemintang yang bercahaya. Seharusnya, ia menjadi sebuah rasi penunjuk arah langkah saat aku beristirahat dari lelah dan sakit oleh pecutan kehidupan. Seharusnya, aku masih menemukannya saat aku berkunjung menemui malam, saat aku mulai bercerita dan mengadu kepada malam.

Dan sekarang aku bersama malam Jakarta, yang beberapa detik lalu telah berubah dan berganti dengan nama hari yang berbeda. Senin 6 desember 2010. Dan saat ini tepat berumur 12 menit. Aku telah berbasa basi dan menggurauinya, agar terkesan akrab dan aku tak lagi sungkan untuk menanyakan padanya tentang sebuah lukisan mimpi yang pernah aku titipkan. Aku sudah siapkan beberapa tuntuan agar ia tak berasalasan bahwa sore tadi langit malam tertutup awan, agar ia tak lagi mengalihkan pembicaraan dengan menceritakan kesedihannya dengan rintik gerimis yang memilukan.

Malam masih diam. Malam tetap membisu dan tak kunjung menunjukan dimana lukisan mimpiku ia simpan. Ia tetap dingin, acuh dan tak peduli dengan raut air mukaku yang berubah dari marah menjadi layu memelas hingga pasrah. Aku mulai ikut terdiam, menunduk dan tak menyalahkan malam. Seharusnya aku tak pernah mengundang setan-setan untuk bermain dan menemui aku ditengah malam. Harusnya aku tak biarkan ia dengan sesuka hati menghapus dan merubah warna-warna impianku dengan tinta hitam. Membebaskanya menghapus jejak-jejak kaki pemandu arah tujuan.

Sudahlah.
Ini saatnya untuk memutuskan hubungan dengan semua yang mempengaruhiku untuk memilih warna-warna hitam.
Meski ini malam, meski ini sedih dan diam.
....

Saat ini aku akan memulai melukiskan impianku yang baru. Mencoba mendokumentasikan setiap jejak langkah yang mengantarku pada satu titik tujuan. Sebuat titik yang aku harus yakini bahwa disanalah aku mendapatkan cayaha yang aku butuhkan untuk menerangi dan menyinari malam. Agar ia tak lagi kesepian, agar ia bercerita dengan tema kebahagiaan. Agar ia ikhlas memeluku hingga lelah dan penatku hilang dan siap berlari menaklukan angkuhnya matahari siang.



Selamat tinggal malam
aku mohon nyanyikan aku sebuah lagu agar aku tak risau meninggalkanmu
agar aku nyaman dalam pelukanmu
hingga kau berpamitan dan mengantarku menemui pagi





Jakarta, 5-6 Desember 2010.

0 Response to "Mencari Jejak yang Hilang"

Post a Comment

Mohon komentar jangan berbau sara dan merugikan orang lain, semoga wadah ini bisa menjadi sesuatu yang baik buat kita. Isi komentar di luar tanggung jawab kami.

powered by softple